Selasa, 12 Juli 2011

Saya dan Pilihan [ Bukan Menjilat Ludah Sendiri Kawan]..

Did you ever have the feeling that you wanted to go, and still have the feeling that you wanted to stay?
(MAN WHO CAME TO DINNER,1942)

Disini saya tidak akan bercerita soal film dengan genre komedi/romantis (salah satu pendukung flmnya adalah Bette Davis...,She’s hillarious!) karena jujur saya belum pernah melihat filmnya walaupun beberapa kali pernah mendengar judul film ini disebut-sebut (oleh entah siapa-atau saya sok pernah dengar?)

Lantas,kenapa saya tiba-tiba muncul dengan posting yang terinspirasi oleh film ini?

Begini. Ayo jangan berantem dan jangan buru2 keluar dari facebook saya.sabar ya. Saya akan ceritakan,kok.

Saya punya kebiasaan baca novel, googing, mencari ungkapan ungkapan populer (entah itu dari famous movie,famous persons,atau apa saja),lalu saya copy paste,saya cantumkan disalah satu file saya, just in case suatu saat saya butuh penguat setiap saya down and merasa hopless.

Nah hari ini kata-kata dari film itu begitu menyentil saya yang sedang kehilangan mood, ide,inspirasi, dan hampir tak bisa focus.saya seperti hantu penasaran, yang mengembara tanpa arah tujuan tapi tak bisa diam atau pergi. Hampir tak punya keinginan apa-apa,selain dia, Si----- Semoga Dia bisa kembali menyemarakan hari hari saya dengan senyum dan tawanya lagi.Oke . saya memang sudah Berjanji untuk “Pergi dan Akan Baik-baik saja”, tapi kadang kala hati seperti tak mau kompromi....seperti dua hari yang lalu-Sigh...

.....Apakah pernah Kamu Merasa Ingin Pergi...Tapi Masih Ingin Tetap Di Sini....

Berapa kali saya merasa ingin meninggalkan orang sebaik dia, hanya karena cobaan yang datang seperti tak mau peduli pada sifat kekanak-kanakan saya, EGOISME saya, Berapa kali saya ingin pergi saja karena takut tak bisa selamanya dengan dia. Padahal Bukan saya atau Dia yang Berhak Memberi TITIK selain Dia Yang Maha Agung?

Tapi ketika saya ingin meninggalkan dia, saya ingin tetap disini. Tetap tak ingin kehilangan dia yang Ramah, Lucu, Baik, Dewasa, Pengertian, Meskipun seringkali bikin Dongkol tapi selalu sabar menghadapi saya. Tetap tak ingin berjauhan dari Dia, meskipun kadang sakit hati karena jeda dan jarak seolah menentang semakin jauh ketika kami tak sepaham...

Lalu saya ingat, dulu sering pernah ada yang bilang kalau hidup ini semata mata adalah menjawab suatu pertanyaan dengan multiple choice of answers . seperti, ujian dengan pilihan A,B,C dimana setiap pilihan akan berhubungan langsung pada hasil akhir ujian tersebut, hidup juga sama. Memilih untuk bereaksi pada suatu kondisi...
Tuhan memang telah menetapkan final end, tapi Dia membebaskan kita untuk memilih jalan mana yang akan kita tempuh, berikut dengan konsekuensinya. Harusnya kita bangga karena Tuhan memberikan kebebasan pada kita untukmemilih, tapi ternyata, SAAT SEDANG LIMBUNG BEGINI, saya hampir tak kuasa untuk memilih..


Saat saya sedang ditanya oleh Tuhan,langkah mana yang akan saya pilih. Tetap tinggal disini , atau pergi...dengan segala resiko sakit hati, atau tersenyum lebih lebar karena ternyata pilihan saya memang benar..


Tapi Bukanlah segala air mata yang nanti akan tumpah atau segala tawa bahagia yang nanti akan terdengar adalah semata-mata pilihan saya juga?Bukankah nanti setelah pilihan itu diambil, saya juga akan memilih lagi bagaimana reaksi saya dalam menghadapi kenyataan—yang entah apa itu--?

At some point, saya sadar sepenuhnya bahwa kebahagiaan adalah permainan otak, dimana saya bisa memilih untuk merasa bahagia atau memanjakan rasa sakit saya. Semuanya ada ditangan saya. Dengan pengawasan Tuhan, tentunya karena saya yakin, Tuhan tidak akan tinggal diam saat melihat makhluk-Nya menyakiti diri sendiri dan berteriak minta tolong..


Kini saya mulai menyadari bahwa saat ini, saya sedang di uji. Pilihan demi Pilihan sudah terentang bebas didepan mata saya dan Tuhan sudah memberikan kuasa penuh pada say untuk melewati semua ini. Tinggal bagaimana saya ingin memperlakukan hidup saya sendiri, tinggal bagaimana saya memilih ingin terluka atau bahagia..


Otak saya sedang kacau, tapi sedang perlahan-lahan saya atur sedemikian rupa sehingga hidup saya terasa lebih indah dan menganggap bahwa masalah sedang saya hadapi ini adalah ujian naik tingkat untuk menjadi seorang Firman yang lebih Dewasa...